Kikir Karena Tamak Kepada Harta

Wednesday, November 25, 2009 8:24
Posted in category Artikel, Free e-book, Tafsir

Download disini untuk ebooknya

Tamak kepada harta adalah salah satu sifat yang di miliki oleh manusia, karena ketamakannya mereka menjadi bakhil, Allah menjelaskan bagaimana sifat tamak ini akan membahayakan dirinya di kemudian hari.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ ,وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ , وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ , أَفَلا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ , وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ, إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ

Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka. (QS al-’Adiyat : 6 - 11)

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Tukang Fitnah Pasti Celaka

Monday, November 2, 2009 12:44
Posted in category Artikel, Free e-book, Tafsir

Donwload ebooknya : viewer : MS Doc , file size : 50KB, klik disini

Dalam tulisan kali ini saya mengambil satu contoh dari kisah Abu Lahab dan istrinya bagimana mereka berdua bersusah payah mematikan da’wah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Ta’ala berfirman

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ {1} مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ {2}سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ {3}وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ {4}فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ {5}

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (QS al Lahab : 1 - 5)

Ketika turun ayat surat 26 ayat 214,

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Bolehkah Menghadap dan Membelakangi Kiblat Ketika Buang Hajat?

Thursday, October 29, 2009 11:58
Posted in category Fiqih, Free e-book

Dikalangan sebagin ulama terjadi perbedaaan pendapat mengenai hal ini dan ini adalah sesuatu yang wajar karena adanya perbedaaan hadist diseputar ini. Namun sebagain lagi berpendapat bahwa menghadap ataupun membelakangi kiblat diperbolehkan selama tertutup oleh dinding.

Berikut adalah dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah ini

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { إذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ لِحَاجَتِهِ فَلَا يَسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ وَلَا يَسْتَدْبِرْهَا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam, ia bersabda: Apabila salah seorang diantara kamu duduk untuk hajatnya, maka janganlah menghadap kiblat dan janganlah membelakanginya. (HR Ahmad dan Muslim, Nailur Authar Hadist No. 84)

وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ النَّبِيِّ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { إذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا } . قَالَ أَبُو أَيُّوبَ : فَقَدِمْنَا الشَّامَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ قَدْ بُنِيَتْ نَحْوَ الْكَعْبَة فَنَنْحَرِفُ عَنْهَا وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dan dari Abi Ayub al anshari, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, ia bersabda: Apabila kamu buang air, maka janganlah kamu menghadap Kiblat dan membelakanginya, tetapi menghadaplah ke timur atau ke arah Barat.[1]. Abu Ayub berkata: Kami tiba di Syam, kemudian kami dapatkan tempat-tempat buang air telah di bangun mengarah ke Ka’bah, kemudian kami rubah arahnya, dan kami beristighfar. (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim, Nailur Authar Hadist No. 85)

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Balasan Terhadap Orang Yang Durhaka

Tuesday, October 27, 2009 12:54
Posted in category Artikel, Free e-book

Download ebooknya : viewer : MS DOC , File Size : 50 KB, klik disini

إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا  [21]لِلطَّاغِينَ مَآبًا[22] لابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا [23]  لا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلا شَرَابًا  [24] إِلا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا [25]جَزَاءً وِفَاقًا [26]إِنَّهُمْ كَانُوا لا يَرْجُونَ حِسَابًا [27] وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا [28]وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا [29]فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلا عَذَابًا   [30]

Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, [21] lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang durhaka, [22] mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, [23] mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, [24] selain air yang mendidih dan nanah, [25] sebagai pembalasan yang setimpal. [26] Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, [27] dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya, [28] dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. [29] Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab. [30] {QS An - Naba : 20 - 30}

Firman Allah Ta’ala “Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, [21]” berbeda pendapat para mufasir dalam hal ini, bahwa di neraka jahannam ada tempat pengintai yang dari temoat itu para penjaga itu mengintai dan mengawasi mereka, namun sebagian mufasir bahwa “tempat pengintai” adalah sebagai temapat yang sengaja disediakan bagi para pembangkang, pendurhaka dan para penentang musuh Allah, dan neraka jahannam itu  ”menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang durhaka, [22].”

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Larangan Berbicara Ketika Buang Air Besar

Tuesday, October 27, 2009 12:11
Posted in category Fiqih, Free e-book

Download ebooknya : Viewer : MS Doc, File Size : 43 KB, klik disini

عَنْ ابْنِ عُمَرَ { أَنَّ رَجُلًا مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُولُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ } رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إلَّا الْبُخَارِيَّ

Dari Ibnu Umar, bahwa seorang laki-laki lewat, sedangkan Rasulullah sedang kencing, lalu ia memberi salam kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi ia tidak menjawabnya. (HR Jama’ah kecuali Bukhori, Nailut Authar Hadist No. 79)

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : { لَا يَخْرُجُ الرَّجُلَانِ يَضْرِبَانِ الْغَائِطَ كَاشِفَيْنِ عَوْرَتَهُمَا يَتَحَدَّثَانِ فَإِنَّ اللَّهَ يَمْقُتُ عَلَى ذَلِكَ } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَابْن مَاجَهْ

Dan dari Abi Sa’id, ia berkata, Aku mendengar Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah dua orang laki-laki keluar buang Air dengan membuka auratnya sambil berbicara, karena sesungguhnya Allah murka dengan yang demikian itu” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, Nailur Authar Hadist No. 80)

Penjelasan:

Hadist No. 1di atas dalam riwayat yang lain terdapat tambahan berikut

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Adab Masuk dan Keluar Jamban?

Monday, October 26, 2009 12:05
Posted in category Fiqih, Free e-book

Download ebooknya : Viewer : MS DOC, File Size : 43 KB, klik disini

[1] عَنْ أَنَسِ بْن مَالِكٍ قَالَ : { كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ } رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ

Dari Anas bin Malik: “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, apabila masuk jamban (tempat buang air besar) ia berdo’a :

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ganguan yang kotor-kotor dan yang keji-keji”. (HR Jama’ah, Nailur Authar Hadist No. 75 )

[2] وَلِسَعِيدِ بْنِ مَنْصُورٍ فِي سُنَنِهِ كَانَ يَقُولُ : ” بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ

Dan bagi Sa’id bin Manshur di dalam kitab sunannya, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam biasa berdo’a :

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Apakah Air Mani itu Najis atau tidak?

Monday, October 26, 2009 9:54
Posted in category Fiqih, Free e-book

Download ebooknya : viewer MS Doc, File size : 48 KB, klik disini

Dalil-dalil yang berkaitan dengan hal ini adalah

{1} عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: { كُنْت أَفْرُكُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَذْهَبُ فَيُصَلِّي فِيهِ }. رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إلَّا الْبُخَارِيَّ

Dari ‘Aisyah, ia berkata: Aku pernah menggosok mani dari pakaian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan akar rumput idzkir[1], lalu ia pergi, kemudian ia shalat dengan pakaian itu. (HR Jama’ah , kecuali Bukhari, Nailur Authar No. 41 )

{2} وَلِأَحْمَدَ { كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْلُتُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِهِ بِعِرْقٍ الْإِذْخِرِ ، ثُمَّ يُصَلِّي فِيهِ وَيَحُتُّهُ مِنْ ثَوْبِهِ يَابِسًا ثُمَّ يُصَلِّي فِيهِ }

Dan bagi Ahmad (dikatakan) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menghilangkan mani dari pakaiannya dengan akar idzkhir, kemudian ia shalat dengan pakaian itu dan mengerik mani dari pakaiannya dalam keadaaan kering, lalu ia shalat dengan pakaian itu.

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Tafsir Surah al Baqarah (5)

Wednesday, October 14, 2009 10:10
Posted in category Al Qur'an, Tafsir

Download Tafsir Surah al Baqarah ayat 1 - 5

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Al Baqarah : 5)

Allah Ta’ala berfirman { أُولَئِكَ }, artinya mereka itulah, yaitu orang-orang yang menyandang sifat-sifat pada ayat sebelumnya, yakni beriman kepada hal-hal yang ghaib, mendirikan shalat, mengeluarkan infak dari rizki yang Allah berikan kepada mereka, berimana kepada apat yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan para Rasul sebelumnya, serta meyakini adanya kehidupan akhirat. Dan semua itu mengharuskan mereka bersiap diri untuk menghadapinya dengan mengerjakan amal shalih dan meninggalkan semua yang di haramkan-Nya.

{ عَلَى هُدًى }artinya Yang tetap mendapat petunjuk,” maksudnya mereka senantiasa mendapat pancaran cahaya, penjelasan serta petunjuk dari Allah Ta’ala.

Dari Ibnu Abbas, bahwa makna { أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ }, artinya mereka itulah atas petunjuk dari tuhan mereka, yaitu mereka tetap mendapatkan cahaya dari Tuhan mereka dan tetap istiqomah kepada al Qur’an yang disampaikan kepada mereka.

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share