Tafsir Surah al Baqarah : 2

Monday, June 22, 2009 10:47
Posted in category Al Qur'an, Tafsir
ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (al - Baqarah : 2)

قَالَ اِبْن جُرَيْج قَالَ اِبْن عَبَّاس ذَلِكَ الْكِتَاب أَيْ هَذَا الْكِتَاب وَكَذَا قَالَ مُجَاهِد وَعِكْرِمَة وَسَعِيد بْن جُبَيْر وَالسُّدِّيّ وَمُقَاتِل بْن حَيَّان وَزَيْد بْن أَسْلَمَ وَابْن جُرَيْج أَنَّ ذَلِكَ بِمَعْنَى هَذَا

Ibnu Juraij menceritakan bahwa Ibnu Abbas mengatakan “ذَلِكَ الْكِتَابُ” berarti “Kitab ini”. Hal yang sama jug adikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, as-Suddi, Muqatil bin hayyan, Zaid bin Aslam, Ibnu Juraij, bahwa { ذَلِكَ } itu berarti “{هَذَا} (ini)”

Bangsa Arab berbeda pendapat mengenai kedua ismul insyarah (kata petunjuk) tersebut. Mereka sering memakai keduanya secara tumpang tindih. Dalam percakapan hal seperti itu sudah mendaji suatu yang dimaklumi. Dan hal itu juga telah di ceritakan oleh Imam Bukhori dari Mu’amamar bin Mutsanna, dari Abu ‘Ubaidah.

{ الْكِتَابُ} yang dimaksud dalam ayat diatas adalah al-Qur’an. Dan ar-Raib maknanya adalah { الشَّكّ} adalah ragu-ragu. { لا رَيْبَ فِيهِ} berarti tidak memiliki keraguan didalamnya, yaitu bahwa al Qur’an ini sama sekali tidak mengandung keraguan didalamnya, bahwa ia diturunkan dari sisi Allah, sebagaimana difirmankan dalam surah as-Sajdah:

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Turunnya Al Qur’an yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam. (as-Sajdah : 2)

Sebagian mufasir mengatakan bahwa arti dari { لا رَيْبَ فِيهِ} adalah janganlah kalian mengingkarinya.

Diantara ahli Qura’ ada yang menghentikan bacaan ketika samapa pada ayat { لا رَيْبَ }, dan memulainya kembali dengan firman-Nya, yaitu { فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ}. Dan ada juga yang menghendtikan bacaaan pada kata {لا رَيْبَ فِيه}. Bacaan yang terakhir inilah yang dipandang paling tepat, karena dengan bacaan seperti itu Firman-Nya, yaitu { هُدًى} menjadi sifat bagi al-Qur’an itu sendiri. Dan yang demikian itu lebih baik dan mendalam dari sekedar pengertian yang menyatakan adalanya petunjuk didalamnya.

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Adab kepada Sunnah Rasulullah

Tuesday, June 16, 2009 23:25
Posted in category Artikel

Oleh : Ahmad Dani Permana

Adalah sikap para sahabat nabi radhiAllahu ‘anhum sangat keras terhadap seseorang yang mencari-cari pendapat-pendapat orang-orang yang dianggap berilmu sebagai pembanding terhadap hukum-hukum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sangat keras terhadap hal seperti ini bagaimanpun tingginya martabat dan kedudukan serta kemulian orang-orang yang dianggap berilmu tersebut.

Memang kita diperintah untuk menghormati orang-orang yang berilmu dan mencintai mereka serta mendahului mereka dari generasi ke generasi. Namun sebelumnya kita harus memahami apa yang harus didahulukan sebelum pendapat orang-orang berilmu itu kita ambil fatwanya jika ditemukan dalil yang sahih dari Al Qur’an dan Sunnah yang berkaitan pada suatu perkara, maka mendahulukan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang diwajibkan sebelum pendapat orang-orang berilmu itu.

Riwayat berikut InsyaAllah bisa menggambarkan dari awal tulisan ini

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Mereka adalah Ulama Salaf Sesungguhnya

Tuesday, June 16, 2009 23:21
Posted in category Artikel

Oleh : A Dani Permana

عَنْ هِشَامِ بْن حَسَّانَ أَنَّ الْحَسَن سُئِلَ عَنْ الصَّلَاة خَلْفَ صَاحِب الْبِدْعَة فَقَالَ الْحَسَن ” صَلِّ خَلْفَهُ وَعَلَيْهِ بِدْعَتُهُ

Dari Hisyam bin Hasan, bahwasannya Al Hasan ditanya tentang sholat dibelakang pelaku bid’ah, Hasan berkata, “Shalatlah di belakangnya, dan dosa bid’ahnya menjadi tanggungannya sendiri.”[1]

عَنْ ‏ ‏عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ خِيَارٍ ‏ ‏أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى ‏ ‏عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ ‏ ‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ‏وَهُوَ ‏ ‏مَحْصُورٌ ‏ ‏فَقَالَ إِنَّكَ إِمَامُ عَامَّةٍ وَنَزَلَ بِكَ مَا نَرَى وَيُصَلِّي لَنَا إِمَامُ فِتْنَةٍ وَنَتَحَرَّجُ فَقَالَ ‏ ‏الصَّلَاةُ أَحْسَنُ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ فَإِذَا أَحْسَنَ النَّاسُ فَأَحْسِنْ مَعَهُمْ وَإِذَا أَسَاءُوا فَاجْتَنِبْ إِسَاءَتَهُمْ ‏

Ubaidillah bin Adi bin Khiyar mengatakan bahwa dia datang kepada Utsman bin Affan sewaktu ia dikepung, dan berkata kepadanya, “Engkau adalah pemimpin seluruh kaum muslimin, dan kami telah melihat apa yang menimpamu. Kami shalat diimami oleh imam penyebar fitnah, dan kami merasa prihatin.” Utsman berkata, “Shalat adalah amal terbaik dari segala amal yang dilakukan manusia. Karena itu, pada waktu orang-orang melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, maka lakukanlah kebaikan bersama mereka. Pada waktu mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk, maka hindarilah perbuatan-perbuatan buruk itu.” [2]

Sebagian sahabat shalat dibelakang sebagian ahli bid’ah, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abu Zamnin dari Siwar bin Syubaih, “Najdah Haruri pergi haji setelah mendapat restu dari Ibnu Az Zubair, Ia memimpin shalat dibelakangnya. Salah seorang bertanya : Wahai Abu Abdurrahman, apakah kamu shalat dibelakang Najdah Al Haruri (pendukung khawarij)? Ibnu Umar menjawab, “Bila mereka mengajak marilah kita menuju kebaikan, maka kita penuhi panggilan mereka. Dan bila mereka mengajak mari kita membunuh jiwa yang suci, maka kami mengatakan: Tidak, sambil dengan suara yang meninggi.”[3]

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Sikap Ahlus Sunnah Dalam Men-Tahdzir

Tuesday, June 16, 2009 23:17
Posted in category Artikel

Oleh: Ahmad Dani Permana

Masalah tuduhan tafkir (mengkafirkan), sesat dan tafsiq (memfasikan) banyak menimbulkan bencana, dan timbulnya benih-benih perpecahan serta munculnya berbagai macam pemikiran dan aliran sesat.

Tulisan ini akan menjabarkan sedikit pendapat ulama terdahulu dalam masalah tersebut diatas dalam rangka mengeliminasi sikap ekstrim dalam lisan setiap mumin kepada mu’min lainnnya.

Al ‘Allamah Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata tentang makna firman Allah Ta’ala yang artinya :

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah dan menjadikannya 3 baagian sesuai dengan keadaan orang yang didakwahi :

  1. Orang yang didakwahi adalah pencari dan pecinta Al Haq. Dia lebih mendahulukan Al Haq dari pada selainnya apabila dia mengetahui Al Haq tersebut. Maka orang ini didakwahi dengan hikmah tidak butuh diperingatkan (dengan ancaman) dan perdebatan.
  2. Orang yang didakwahi sibuk dengan selain Al Haq. Akan tetapi kalau dia mengetahuinya, dia akan lebih mendahulukan Al Haq (daripada selainnya) dan mengikutinya. Maka orang ini butuh (didakwahi) dengan peringatan yang memberikan semangat dan juga peringatan yang memberikan ancaman.
  3. Orang yang didakwahi suka menentang dan melawan (Al Haq). Maka terhadap orang ini didebat dengan cara yang baik jika dia mau kembali. Kalau tidak, orang ini dibawa kepada penguasa jika memungkinkan.”[1]

Adapun sikap moderat para Sahabat Nabi memandang bahwa tidak semua ahli bid’ah dalam posisi dan derajad yang sama dalam kebid’ahannya. Diantara mereka ada yang jelas kafir, bila terbukti telah berbuat atau berucap sesuatu kekafiran, karena sydah memenuhi persyaratan dan tidak ada penghalang untuk dikafirkan. Dan sebagian yang lain tidak bias dikafirkan karena tidak terpenuhi syara-syarat dan adanya penghalang. [2]

Sikap salafus shalih sebagaimana diungkapkan Ibnu Taimiyyah : “Diantara para ulama terjadi perselisihan dalam masalah tafkir terhadap ahli bid’ah dan pernyataan kekal di neraka. Dan setiap ulama seperti Imam Malik, Asy Syafi’I dan Ahmad selalu melontarkan dua pendapat. Akhirnya diantara pengikutnya ada yang secara mentah-mentah mengkafirkan ahli bid’ah dan menyatakan kekal di dalam neraka secara mutlak dan sebagian pengikut yang lain tidak mau sama sekali mengkafirkan ahli bid’ah, meskipun telah melakukan perbuatan yang nyata-nyata kafirdan ilhad.[3]

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Jauhi Buruk Sangka

Tuesday, June 16, 2009 23:12
Posted in category Artikel

Berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya.

Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam bahasa Arabnya disebut su`u zhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. Berbagai prasangka terlintas di pikiran kita, si A begini, si B begitu, si C demikian, si D demikian dan demikian. Yang parahnya, terkadang persangkaan kita tiada berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan zhan tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain. Padahal su`u zhan kepada sesama kaum muslimin tanpa ada alasan/bukti merupakan perkara yang terlarang. Demikian jelas ayatnya dalam Al-Qur`anil Karim, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)”

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Puasa Sya’ban

Tuesday, June 16, 2009 23:03
Posted in category Fiqih

ehmmmm sebentar lagi shaum sya’ban… apakah Anda tertarik?…

Sya’ban adalah nama bulan. Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.

Shaum di bulan Sya’ban

‏عَنْ ‏ ‏عَائِشَةَ ‏ ‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ‏ ‏قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ‏

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956). Dan dalam riwayat Muslim No.1957 : “Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Dan sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.”

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share

Penciptaan Alam Semesta

Tuesday, June 16, 2009 22:58
Posted in category Al Qur'an, Artikel

Al Qur’an dan Sains

Semua artikel yang ada dalam web ini adalah hasil karya dari Harun Yahya

Asal mula alam semesta digambarkan dalam Al Qur’an pada ayat berikut:

“Dialah pencipta langit dan bumi.” (Al Qur’an, 6:101)

Keterangan yang diberikan Al Qur’an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam sekejap. Peristiwa ini, yang dikenal dengan “Big Bang”, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.

Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern, diberitakan kepada kita dalam Al Qur’an 1.400 tahun lalu.

Sensor sangat peka pada satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan.

Bookmark and Share

Pengertian As Sunnah

Tuesday, June 16, 2009 22:54
Posted in category Artikel

Oleh : A Dani Permana

Para ulama memberikan definisi sunnah ini dari berbagai macam sudut pandangan baik secara etimologis dan termonologis, dan ditinjau dari sudut ilmu fiqh dan ilmu hadist dan sebagainya. Pengertian tersebut diantaranya:

a. Pengertian Sunnah secara etimologis adalah perilaku atau cara berperilaku yang dilakukan, baik cara yang terpuji maupun yang tercela. Pengertian ini berdasarkan hadist rasulullah yang beliau sholallhu ‘alaihi wasallam bersabda ada sunnah yang baik dan sunah yang buruk, sabdanya:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ , وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Barang siapa melakukan suatu perbuatan sunnah yang baik , maka baginya pahala dari perbuatannya itu dan pahala dari perbuatan orang yang mengikuti perbuatan sunnah yang baik itu hingga hari kiamat, Dan barang siapa yang melakukan perbuatan sunnah yang buruk maka baginya dosa atas perbuatannya itu dan dosa dari orang yang melakukan sunnah yang buruk itu hingga hari kiamat. Riwayat oleh Imam Muslim, Nasaii, Ibnu Majah, dan tirmidzi dengan periwayatan yang ringkas. Lihat Karya Syaikh Yusuf Qardhawi dalam al-Muntaqa min Kitab at-taghrib wa tarhib, I/115. Selain riwayat tersebut diatas lafazh ini dikutip juga dalam Kitab Syarah Thariqah Muhammadiyah wa syari’ah an nabawiyah pada bab “al Ithisham bikitabi wa as sunnah”. Dan pengertian dari : barangsiapa melakukan suatu sunnah yang baik dalam islam” adalah selama masa hidupnya, bukan setelah kematiannya, atau karena peran orang tua atau keturunan-keturunannya. [1]

b. Adapun dalam pengertian syaria’t kata Sunnah mempunyai pengertian tersendiri atau lebih dari satu pengertian. Misalnya: Kata Thaharah, secara etimologis ia bermakna kebersihan, sedangkan pengertian terminologis yang diberikan oleh syari’at, ia bermakna menghilangkan hadast atau menghilangkan najis dan sejenisnya.

…. baca selengkapnya »

Bookmark and Share